Selamat Datang Di ___ Airplane Blog ___ Terima Kasih Atas Kunjungan Anda...
Google
 

The F-14 Tomcat.





Tipe pesawat buatan Grumman Aircraft Engineering Corporation dan dirancang oleh Bob Kress ini adalah pesawat tempur superioritas udara.

F-14 pertama kali terbang pada tanggal 21 Desember 1970, hanya 22 bulan setelah Grumman memenangkan kontrak ini dan diperkenalkan pada September 1974.Amerika Serikat adalah pemakai pertama pesawat tempur supersonik sayap lipat ini.Karena sayapnya bisa dilipat,jadi cocok untuk kapal induk karena menghemat tempat.Menurut Wikipedia,harga satuan pesawat ini mencapai US$38 juta pada tahun 1998.Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S Navy) mulai memakai pesawat ini pada tahun 1972 menggantikan F-4 Phantom II dan sempat diekspor ke Iran sebelum dipensiunkan pada 20 September 2006 dan digantikan oleh F/A-18E/F Super Hornet.F-14D Super Tomcat adalah varian terakhirnya.ditambah peralatan avionik digital terbaru termasuk Glass Cockpit seperti B-737-900ER milik Lion Air dan radar canggih APG-71 menggantikan AWG-9. 37.Tapi secanggih apapun pesawat ini kalau sudah tua harus pensiun.

Dikutip Dari >>> http://info-dirgantara.blogspot.com/2008/01/f-14-tomcat.html

Read More......

Sejarah Singkat Flight Simulator.





FLIGHT SIMULATOR.

Pada perang dunia ke-I dibutuhkan alat untuk menguji aptitude bagi para calon pilot, maka pada tahun 1915 alat seperti ini dibuat untuk menguji kecepatan reaksi terhadap'gangguan' yang diberikan penguji yang digerakkan langsung dengan tangan [dengan cara menggoncang cockpit - seperti pada gambar di bawah] dan terdapat alat perekam gerakan untuk mencatat kecepatan reaksi para kandidat pilot.
http://www.indofs.com/sejarah/Hist1.jpg

Kemudian perkembangan selanjutnya pada tahun 1927 dengan alat setipe mesin Antoinette menggunakan penggerak elektrik dan mekanik yang terhubung dengan konsol pelatih. Tujuan dari alat ini adalah untuk memutar pesawat pada 'attitude' sesuai dengan respon input dari pilot. Dan pelatih bisa membari efek turbulance/rough air dan memberikan 'problem' pada flight control untuk menguji kecepatan reaksi pilot.
Yang paling sukses dan terkenal pada masa itu adalah LINK TRINER [gambar dibawah] yang dibuat pada tahun 1927.
http://www.indofs.com/sejarah/Link.jpg

Kemudian setelah dirasakan kegunaan akan terbang instrumen, maka mulailah bermunculan alat-alat 'instrument flight trainer' baru yang makin lengkap instrumennya. Kemudian muncul alat 'course plotter' yang dapat mencatat pergerakan pesawat pada sebuah 'chart'.
Dan pada perang dunia ke-II kebutuhan akan simulator ini dirasakan makin penting, baik untuk sang pilot juga untuk para navigator.
Celestial Navigation Trainer pertama [gambar di bawah] dibuat tahun 1941, digunakan untuk berlatih navigasi menggunakan acuan bintang.
http://www.indofs.com/sejarah/Hist3.jpg

Dan semasa perang dunia ke-II, simulator ini digunakan untuk latihan para crew pesawat, baik latihan mengebom, meninggalkan pesawat dengan parasut, dll. Contohnya adalah Silloth Trainers dari pesawat Halifax [gambar di bawah] yang digunakan untuk 'familiarization training' para crew serta latihan penanganan kerusakan. Semua 'basic flying behaviour', mesin, elektrik dan sistim hidrolik dapat disimulasikan pada alat ini. Dan semua komputasi menggunakan sistim pneumatik.
http://www.indofs.com/sejarah/Hist4.jpg

Kemajuan besar dalam dunia simulasi pada masa perang dunia ke-II adalah penggunaan Analog Computer atau Differential Analyser [elektronik] yang memungkinkan simulasi berupa respon pesawat terhadap gaya aerodinamik.
Pada tahun 1941 Simulator Elektronik pertama kali dibuat berdasarkan ide F.C. Williams menggunakan metode komputasi D.C. [direct curent] untuk mensimulasikan aerodinamik sederhana sebuah pesawat tempur. Kemudian tahun 1945 simulator yang lebih canggih dibuat. Teknologi selanjutnya adalah ditemukannya teknologi komputasi A.C. dengan frekuensi 50 Hz, dan kemudian 400Hz.
http://www.indofs.com/sejarah/Hist5.jpg
http://www.indofs.com/sejarah/Hist6.jpg

Kemudian pada tahun 1948 Curtiss-Wright dikontrak untuk membuat 'full-simulator' pesawat Boeing 377 Stratocruiser oleh Pan American Airways. Ini adalah simulator pertama yang dimiliki sebuah Airlines. Dan ternyata Simulator ini terbukti sangat berguna untuk melatih para flight crew dalam melatih prosedur pada kondisi 'emergency'. Terbang rute lengkap dengan menggunakan seluruh fasilitas navigasi bisa dilakukan disimulator ini.
Simulator pesawat jet transport pertama adalah pesawat Comet I oleh perusahaan Redifon untuk BOAC, menggunakan komputer analog 60 Hz dan mengunakan 'control-loading system' yang terkoreksi terhadap airspeed.
http://www.indofs.com/sejarah/Hist7.jpg

Kemudian tibalah era Simulator Digital, pada tahun 1960 pertama dibuat komputer untuk menghitung dinamika pesawat bernama UDOFT [Universal Digital Operational Flight Trainer]. Kemudian dibuat komputer bernama Link Mark I untuk simulator 'real-time', menggunakan 3 'parallel processor' untuk komputasi aritmatik, 'function generation', dan seleksi radio station.
Kemudian muncul 'visual-system' yang diawali dengan teknologi 'point-light source projection' diawal tahun1960-an. Penggunaan 'Visual system' berwarna pertama kali oleh Redifon pada tahun 1962. Semenjak itu pengembangan simulator diutamakan pada penyempurnaan tampilan gambar.
http://www.indofs.com/sejarah/sim2.jpg

Komputer pertama yang dapat menghasilkan gambar dibuat oleh General Electric Company dengan menggunakan sistim 'patterned ground-plane image'. Kemudian sistim selanjutnya menggunakan objek 3-dimensi. Dan perkembangan grafik 3-dimensi selanjutnya sangat dekat dengan perkembangan perangkat keras komputer.[gambar bawah]. http://www.indofs.com/sejarah/Hist8.jpg
http://www.indofs.com/sejarah/sim3.jpg

Sumber info dari >>> http://www.indofs.com/

Read More......

Cerita Singkat Burung Jatayu.


Burung Jatayu.



Cerita Singkat Burung jatayu.

Burung jatayu adalah burung sakti sahabat rama.dalam cerita ramayana burung ini dikenal dengan burung yang berani dalam misi penyelamatan dewi shinta yang di culik rahwana.

Burung Jatayu yang berusaha menghalangi,tapi tewas oleh senjata Rahwana. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Jatayu masih sempat mengabarkan nasib Sinta kepada Rama dan Laksmana yang sedang mencarinya.Dalam mencari Sinta, Rama dan Laksamana berjumpa pembesar kera yang bernama Sugriwa dan Hanuman. Mereka mengikat persahabatan dalam suka dan duka. Dengan bantuan Rama, Sugriwa dapat bertahta kembali di Kiskenda setelah berhasil mengalahkan Subali yang lalim. Setelah itu, Hanuman diperintahkan untuk membantu Rama mencari Sinta. Dengan pasukan kera yang dipimpin Anggada, anak Subali, mereka pergi mencari Sinta.

Atas petunjuk Sempati, kakak Jatayu, mereka menuju ke pantai selatan. Untuk mencapai Alengka, Hanuman meloncat dari puncak gunung Mahendra. Setibanya di ibukota Alengka, Hanuman berhasil menemui Sinta dan mengabarkan bahwa Rama akan segera membebaskannya. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman melapor kepada Rama. Strategi penyerbuan pun segera disusun. Atas saran Wibisana, adik Rahwana yang membelot ke pasukan Rama, dibuatlah jembatan menuju Alengka. Setelah jembatan jadi, berhamburanlah pasukan kera menyerbu Alengka. Akhirnya, Rahwana dan pasukannya hancur. Wibisana kemudian dinobatkan menjadi raja Alengka, menggantikan kakaknya yang mati dalam peperangan. Yang menarik dan sampai saat ini sangat populer di Jawa, adalah adanya ajaran tentang bagaimana seharusnya seseorang memerintah sebuah kerajaan atau negara dari Rama kepada Wibisana, yang dikenal dengan sebutan ASTHABRATA.

Burung Jatayu Sebagai Icon Penerbangan jatayu airlines.

Burung jatayu air di gunakan sebagai ikon penerbangan jatayu airlines.burung jatayu yang gagah berani melawan rahwana menjadi simbol penerbangan jatayu.

Jatayu Airlines (Jatayu Gelang Sejahtera) adalah sebuah maskapai penerbangan charter[1] yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Jatayu didirikan pada tahun 2000 oleh Sutinah dan pernah mengoperasikan penerbangan domestik dan internasional.

Data kode

Kode IATA: VJ
Kode ICAO: JTY
Tanda panggil: Jatayu

Tujuan.

Berikut adalah tujuan penerbangan Jatayu (pada Januari 2005):

Domestik

Balikpapan (Bandara Sepinggan)
Batam (Bandara Hang Nadim)
Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta)
Medan (Bandara Polonia)
Pekanbaru (Bandara Sultan Syarif Kasim II)

Luar negeri.

Guangzhou
Penang (Bandara Internasional Bayan Lepas)
Singapura (Bandara Internasional Changi Singapura)

Armada.

Armada Jatayu Airlines terdiri dari (pada April 2008):
1 Boeing 737-200

Read More......

Hang Nadim Airport In Batam Indonesia.





Hang Nadim Airport (IATA: BTH, ICAO: WIDD), also known as Hang Nadim International Airport, is located in Batam, Riau Islands (part of Sumatra), Indonesia. It is the only airport on the island. It has been the primary method of transport to and from Batam, alongside ferries to neighboring islands (including Singapore). As Batam continues to develop its tourism sectors, the Hang Nadim has proved a sufficiently effective airport. Originally developed as an alternative airport for Singapore Changi Airport in mind (should in case an emergency for aircraft force a redirect), the Hang Nadim has facilities and the longest runway in Indonesia, sufficient for Boeing 747s and several times more passengers than it is currently serving. However Changi was developed to grow, and the Sijori Growth Triangle region has 4 airports, including Senai International Airport in Johor Bahru and the Seletar Airport.

Airlines and destinations.

Domestic.

Adam Air (Jakarta, Surabaya)
AirAsia
Indonesia AirAsia (Jakarta)
Batavia Air (Jakarta)
Garuda Indonesia (Jakarta, Surabaya)
Citilink (Bandung, Medan, Jakarta, Pekanbaru, Surabaya)
Kartika Airlines (Jakarta, Medan)
Lion Air (Jakarta, Pekanbaru)
Mandala Airlines (Jakarta, Jambi, Padang, Surabaya)
Merpati Nusantara Airlines (Bandung, Padang, Palembang, Pekanbaru)
Riau Airlines (Dumai, Jambi, Natuna, Pangkalpinang, Pekanbaru)
Sriwijaya (Jakarta, Medan)

Former Airlines.

Korean Air Cargo

Read More......

Sultan Syarif Qasim II Airport In Pekanbaru Indonesia.



Sultan Syarif Qasim II International Airport (IATA: PKU, ICAO: WIBB) is an international airport that serves the city of Pekanbaru, Riau, Indonesia. The airport is often referred as to SSQ II, SSQ or Sultan Syarif Kasim II International Airport (SSK II), and formerly known as Simpang Tiga Airport. The name of the airport is obtained from Sultan Syarif Qasim II which is a pre-independence historical figure from Riau.

The airport serves flights to and from several cities in Indonesia and neighboring countries such as Malaysia and Singapore and some direct flights to Jakarta, Singapore, Kuala Lumpur, Malacca, Medan and Batam. In recent years, as the establishment of the locally-owned Riau Airlines, PKU is also the home base of the airline, servicing into small and regional airports within Riau, Riau Islands, and Jambi.

The airport also the homebase of TNI-AU (Indonesian Air Force) 12th Squadron airbase, a shelter to some Hawk Mk.109s and Mk.209s, and also Sikorsky S-58T Twinpac on the rotor-wing side.

The Provincial Government of Riau is considering to move the airport into a new and convenient place, somewhat outside the city of Pekanbaru. Some locations have been chosen, but the final decision has not been made yet.

Airlines and passengers.

AirAsia
Indonesia AirAsia (Jakarta, Kuala Lumpur [begins 30 Mar, 2008]) )
Garuda Indonesia (Jakarta, Singapore)
Merpati Nusantara Airlines (Jakarta, Medan)
Riau Airlines (Malacca)

Read More......

Ngurah Rai Airport In Bali Indonesia.





Ngurah Rai International Airport (IATA: DPS, ICAO: WADD), also known as Denpasar International Airport, is located in southern Bali, 13 km south of Denpasar. It is Indonesia's third-busiest international airport, after Jakarta's Soekarno-Hatta International Airport and Surabaya's Juanda International Airport. The airport is located close to the extensive tourist developments of southern Bali; the resort center of Kuta is 2.5 km north of the airport. The airport was previously determined by Transportation Security Administration of the United States of America in 2005 as not meeting the security standards of the International Civil Aviation Administration,[1] however this warning was lifted on 2007-10-11.[2].

This airport is collecting an Airport Improvement Fee of Rp 150,000 per traveller (approximately $17 USD / €12) upon departure. Passengers have to pay cash in Rupiah. Many international travellers also have to pay for an entry visa on-arrival. This costs US$10 for a 7 day stay, and US$25 for a 30 day stay and must be paid in cash[3]. The visas are non-extendable and cannot be converted. There are also a number of countries that require a visa to be organised before arrival, or do not require a visa at all. A list is available here. This is applicable to Indonesia in general and is not specific to Bali.
Domestic Arrival and Departure Terminal Area: 9.039 m²
International Arrival and Departure Terminal Area: 28.630 m²
The parking area is 38.358 m².
The total terminal area is 265.60 Ha.

The Domestic Terminal is located in the old building, while the International Terminal is located in the L shaped terminal. The airport has 17 gates: 3 in the Domestic Terminal, and 14 in the International Terminal. The Domestic Terminal has 35 check in counters, and 2 baggage carousels.

A new airport is proposed to change Ngurah Rai airport in Jembrana regency in western Bali[4].

Airlines and destinations.

The following airlines operate from Ngurah Rai International Airport (as of March 2008):

Passenger Terminal.

Domestic Terminal.

Adam Air (Jakarta)
AirAsia
Indonesia AirAsia (Jakarta)
Batavia Air (Jakarta, Pontianak, Surabaya, Yogyakarta)
Garuda Indonesia (Balikpapan, Jakarta, Jayapura, Makassar, Surabaya, Timika, Yogyakarta)
Citilink (Jakarta, Mataram, Surabaya)
Lion Air (Jakarta, Makassar, Mataram)
Mandala Airlines (Balikpapan, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta)
Merpati Nusantara Airlines (Bandung, Bima, Dili, Jakarta, Kupang, Mataram, Maumere, Surabaya, Waingapu)
Pelita Air (Ende, Kupang, Maumere, Labuan Bajo, Waingapu)
Sriwijaya Air (Jakarta, Surabaya)
Wings Air (Mataram, Surabaya, Yogyakarta)

International Terminal.

AirAsia (Kuala Lumpur)
Indonesia AirAsia (Kota Kinabalu, Kuching, Kuala Lumpur) [begins 2 May]
Airnorth (Darwin)
Cathay Pacific (Hong Kong)
China Airlines (Taipei-Taoyuan)
Continental Airlines
Continental Micronesia (Guam)
Garuda Indonesia (Darwin, Melbourne, Nagoya-Centrair [resumes 2 June], Osaka-Kansai, Perth, Seoul-Incheon, Singapore, Sydney, Tokyo-Narita)
Japan Airlines (Osaka-Kansai, Tokyo-Narita)
Jetstar Asia Airways
Valuair (Singapore)
Korean Air (Seoul-Incheon)
Malaysia Airlines (Kuala Lumpur)
Ozjet (Perth)
Qantas (Perth, Singapore)
Jetstar Airways (Melbourne, Sydney)
Qatar Airways (Doha, Kuala Lumpur)
Royal Brunei Airlines (Bandar Seri Begawan)
Singapore Airlines (Singapore)
Skywest (Broome [seasonal])
Thai Airways International (Bangkok-Suvarnabhumi)

Charter airlines.

China Eastern Airlines (Shanghai-Pudong)
Shanghai Airlines (Shanghai-Pudong0

Past airlines and routes.

Airlines still in operations with its terminated routes.

Garuda Indonesia (Abu Dhabi, Adelaide, Amsterdam, Auckland, Bangkok-Suvarnabhumi, Frankfurt, Fukuoka, Hong Kong, Honolulu, Nagoya-Centrair, Taipei)
Malaysia Airlines (Johor Bahru)
Merpati Nusantara Airlines (Balikpapan, Biak, Darwin, Melbourne, Perth, Porthedland, Sumbawa)
Qantas (Darwin, Melbourne, Sydney)

Past airlines with its destinations.

All Nippon Airways (Osaka-Kansai, Tokyo-Narita)
Bouraq Indonesia Airlines (Balikpapan, Surabaya)
EVA Air (Taipei)

Incidents.

February 16, 1998: China Airlines Flight 676 took off from Ngurah Rai. Upon approach to Chiang Kai-shek International Airport the aircraft crashed, killing everyone on board.

Read More......

Juanda Airport Surabaya In Indonesia.





Juanda International Airport (Indonesian: Bandar Udara Internasional Juanda) (IATA: SUB, ICAO: WARR), is an airport located in Sidoarjo, a small town near Surabaya, East Java. This airport serves Surabaya and surrounding areas. Juanda International Airport is operated by PT Angkasa Pura I. Juanda International Airport is the second biggest airport in Indonesia, after Jakarta Soekarno-Hatta International Airport.

Airport development.

A new three-story terminal building was opened on November 10, 2006. The building has a capacity of 8 million passengers per year and features a 51,500 m² domestic passenger terminal, a 20,200 m² international terminal and 11 airbridges. There is a separate 5,300 m² administration building, including a 15-story control tower, and a 2-story cargo building with domestic and international cargo sections, capable of handling 120,000 tons of cargo a year.

The new apron with an area of 148,000 m² can handle 18 aircraft simultaneously, including 2 wide body, 11 medium and 5 small aircraft. There are two 3000x30m parallel taxiways, including 5 exit taxiways (30m wide) and 4 connecting taxiways (also 30m).

The previous terminal buildings are no longer used.

Airlines and destinations.

The following destinations are served from Surabaya (as of November 2007):

Terminal A.

Domestic.

Garuda Indonesia: Domestic departures (Denpasar/Bali, Jakarta)

International

AirAsia (Johor Bahru, Kuala Lumpur)
Indonesia AirAsia (Kuala Lumpur)
Cathay Pacific (Hong Kong)
EVA Air (Taipei-Taoyuan)
Garuda Indonesia (Singapore)
Jetstar Asia Airways
Valuair (Singapore)
Kartika Airlines (Johor Bahru)
Lion Air (Kuala Lumpur) [1]
Merpati Nusantara Airlines (Kuala Lumpur)
Singapore Airlines
SilkAir (Singapore)

Terminal B.

Domestic.

AirAsia
Indonesia AirAsia (Jakarta)
Airfast Indonesia (Jakarta, Ujung Pandang)
Batavia Air (Ambon, Balikpapan, Banjarmasin, Denpasar/Bali, Jakarta, Kupang, Mataram, Palangkaraya, Pontianak, Tarakan, Ujung Pandang, Yogyakarta) [2]
Garuda Indonesia: Domestic arrival (Denpasar/Bali, Jakarta)
Citilink (Batam, Balikpapan)
Kartika Airlines (Balikpapan, Tarakan, Yogyakarta) [3]
Lion Air (Ambon, Balikpapan, Banjarmasin, Batam, Denpasar/Bali, Jakarta, Malang, Mataram, Ujung Pandang, Yogyakarta)
Wings Air (Banjarmasin, Denpasar/Bali, Jakarta)
Mandala Airlines (Batam, Denpasar/Bali, Jakarta, Malang)
Merpati Nusantara Airlines (Cilacap, Denpasar/Bali, Jakarta, Kupang, Malang, Mataram, Palangkaraya, Pontianak, Ujung Pandang, Yogyakarta)
Sriwijaya Air (Balikpapan, Banjarmasin, Batam [4], Jakarta, Kupang, Semarang, Ujung Pandang)

Accidents and incidents.

On February 21, 2007 Adam Air Flight 172, a Boeing 737 with registration PK-KKV, bends while landing at Surabaya airport. There are no fatalities to the 148 people on board, but six of Adam Air's Boeing 737s are grounded for safety inspections.

Read More......

Soekarno-Hatta Airport In Indonesia.



History.

Between 1928–1974, the Kemayoran Airfield intended for domestic flights was considered too close to an Indonesian military airfield, Halim Perdanakusuma. The civil airspace in the area became narrow, while air traffic increased rapidly, which risked international air traffic. In 1969, a Senior Communication Officers meeting in Bangkok expressed this concern.

In the early 1970s, with the help of USAID, eight potential locations were analyzed for a new international airport, namely Kemayoran, Malaka, Babakan, Jonggol, Halim, Curug, South Tangerang and North Tangerang. Finally, the North Tangerang airspace was chosen and it was also noted that Jonggol could be used as an alternative airfield. Meanwhile the Indonesian government started to upgrade the Halim Perdanakusumah airfield to be used for domestic flights.

Between 1974–1975, a Canadian consultant consortium consisting of Aviation Planning Services Ltd., ACRESS International Ltd., and Searle Wilbee Rowland (SWR), won a bid for the new airport feasibility project. The feasibility study started on 20 February 1974 with a total cost of 1 million Canadian Dollars. The one-year project proceed with an Indonesian partner represented by PT Konavi. By the end of March 1975, the study revealed a plan to build three inline runways, a perforated road, three international terminal buildings, three domestic buildings and one building for Hajj flights. Three stores for the domestic terminals would be built between 1975–1981 with a cost of US$ 465 million and one domestic terminal including an apron from 1982–1985 with a cost of US$ 126 million. A new terminal project, named the Jakarta International Airport Cengkareng (code: JIA-C), began.

Project Phases.

1975 – 1977 To dispense the land and also set up the province border was time needed. Schipol, Amsterdam was asked for opinion which according to them is rather expensive and over design. The cost raised up high because of using decentralization system. The Centralization system was a suitable one.

The Team decided on a decentralization system like the one used at Orly West Airfield, Lyon Satolas,, Langen-Hagen-Hanover and Kansas City Airport module system was adopted because it is simple and effective.

12 November 1976.
The building project tender was won by the French Aeroport de Paris.

18 May 1977.

The Final contract design was agreed on by the Indonesian Government and Aeroport de Paris with a fixed cost of about 22,323,203 French francs and Rp. 177,156,000 equivalent to 2,100,000 francs. The work was scheduled to take 18 months. The government appointed PT. Konavi as the local partner.

The result was:
• 2 inline runways including taxiways
• Perforate roads: 1 at the east, another at the west for airport services. The west was closed to public use.
• 3 terminals which can accommodate 3 million passengers per year.
• 1 module for international flights and 2 for domestic.
• An Airport inside a garden was selected as an image.

20 May 1980.
A four year contract was signed. Sainraptet Brice, SAE, Colas together with PT. Waskita Karya as the developer. Ir. Karno Barkah MSc. was appointed the JIA-C Project Director, responsible for the airport's construction. [3]

1 December 1980.

The Indonesian government signed a contract for Rp. 384,8 billion with developers. The structure cost would be : Rp. 140,450,513,000 from APBN (national budget), 1,223,457 francs donated by France and US$ 15,898,251 from the USA.

1 December 1984.
The airport structure was complete.

1 May 1985.
The second terminal was started and launched on 11 May 1992.

Airlines and destinations.
The following airlines operate from Soekarno-Hatta International Airport (as of March 2008):

Terminal 1

Terminal 1A.

Indonesia AirAsia (Bali-Denpasar, Balikpapan, Batam, Medan, Padang, Solo, Surabaya)
Lion Air (Ambon, Balikpapan, Banda Aceh, Banjarmasin, Batam, Bau Bau, Bengkulu, Bima, Denpasar/Bali, Gorontalo, Jambi, Kaimana, Kendari, Kupang, Makassar, Manado, Mataram, Medan, Padang, Palu, Pangkal Pinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Solo, Sorong, Sumbawa, Surabaya, Tahuna, Tarakan, Tual, Yogyakarta)
Wings Air (Denpasar/Bali, Fak Fak, Luwuk, Manado, Mataram, Medan, Palembang, Pekanbaru, Sorong, Ternate, Solo, Yogyakarta)

Terminal 1B.

Batavia Air (Ambon, Balikpapan, Banjarmasin, Denpasar/Bali, Jambi, Kupang, Manado, Medan, Padang, Palembang, Pangkalpinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Surabaya, Tarakan, Yogyakarta)
Kartika Airlines (Balikpapan, Batam, Ipoh, Johor Bahru, Medan, Surabaya, Tarakan)
Sriwijaya Air (Balikpapan, Bandar Lampung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Denpasar/Bali, Gorontalo, Jambi, Malang, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Pangkal Pinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Solo, Surabaya, Tanjung Pandan)

Terminal 1C.

Airfast Indonesia (domestic routes)
Mandala Airlines (Balikpapan, Banjarmasin, Batam, Denpasar, Jambi, Makassar, Malang, Medan, Padang, Pekanbaru, Semarang, Solo, Surabaya, Tarakan, Yogyakarta)

Former users
Adam Air (Air certificate revoked)
Citylink (Temporary closure (until mid 2008))

Terminal 2.
Check in desks in terminal 2

Terminal 2D.

AirAsia (Kuala Lumpur)
Air China (Beijing, Xiamen)
Air India (Mumbai, Singapore)
All Nippon Airways (Singapore, Tokyo-Narita)
Cathay Pacific (Hong Kong)
Cebu Pacific (Manila)
China Airlines (Hong Kong, Taipei-Taiwan Taoyuan)
China Southern Airlines (Beijing, Guangzhou)
Emirates (Colombo, Dubai, Kuala Lumpur, Singapore)
Etihad Airways (Abu Dhabi)
EVA Air (Taipei-Taiwan Taoyuan)
Japan Airlines (Tokyo-Narita)
Korean Air (Seoul-Incheon)
Kuwait Airways (Kuala Lumpur, Kuwait)
Lufthansa (Frankfurt, Singapore)
Malaysia Airlines (Kuala Lumpur)
Philippine Airlines (Manila, Singapore)
Qantas (Perth, Sydney)
Saudi Arabian Airlines (Jeddah, Kuala Lumpur, Riyadh, Singapore)
Shenzhen Airlines (Nanning)
Singapore Airlines (Singapore)
Thai Airways International (Bangkok-Suvarnabhumi, Singapore)
Valuair (Singapore)
Viva Macau (Macau)
Yemenia (Dubai, Kuala Lumpur, Sana'a)

Former users.

Adam Air (Air certificate revoked)

Terminal 2E.

Baggage claim at terminal 2
Batavia Air (Guangzhou, Kuching)
Garuda Indonesia (Bangkok-Suvarnabhumi, Beijing, Chennai, Dubai, Guangzhou, Ho Chi Minh City, Hong Kong, Hyderabad [Starts June 2008], Jeddah, Kuala Lumpur, Nagoya-Centrair, Naha [begins August 2008], Osaka-Kansai, Perth, Riyadh, Shanghai-Pudong, Singapore, Tokyo-Narita)
Indonesia AirAsia (Bangkok-Suvarnabhumi, Johor Bahru, Kota Kinabalu, Kuala Lumpur, Kuching, Penang)
KLM Royal Dutch Airlines (Amsterdam, Kuala Lumpur)
Lion Air (Ho Chi Minh City, Kuala Lumpur, Penang, Singapore)
Merpati Nusantara Airlines (international routes)
Qatar Airways (Doha, Singapore)
Royal Brunei Airlines (Bandar Seri Begawan)

Terminal 2F.

Arrival wing terminal 2 F
Merpati Nusantara Airlines (domestic routes)
Garuda Indonesia (Ampenan, Balikpapan, Banda Aceh, Banjarmasin, Batam, Biak, Denpasar/Bali, Jayapura, Makassar, Manado, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Solo, Surabaya, Timika, Yogyakarta).

Read More......

History Airplane.



To say simply that the Wright brothers invented the airplane would be disrespectful to the long years of scientific research and hard work put in by Orville and Wilbur Wright. Their story reads like the proverbial American dream where two honest, hardworking men, armed with nothing but their intelligence and determination made one of the most significant discoveries of the twentieth century.

Wilbur and Orville were born to Milton and Susan Wright. It was their father who initiated and encouraged the brothers’ interest in airplanes. In 1878 Milton Wright returned from a work related trip with a rubber band powered helicopter. The Wright brothers even at a young age immediately studied the model helicopter and started building replicas.

Around 1896, when the Wright brothers were successfully managing their bicycle company, the newspapers started carrying many stories about the invention of gliders and inventors who were trying to fly. This triggered the imagination of both brothers. They noticed that all the aircrafts developed till then lacked controls.

To start their venture, Wilbur wrote a letter to the Smithsonian Institution requesting for all the information on flight experiments that they had. Subsequently, in 1899 the brothers developed a simple system to warp the wings of a biplane. Warping meant that the plane could be controlled and rolled left or right as required. They tested this system on a series of gliders they developed.

The Wright brothers used Kitty Hawk, North Carolina to test the various models they built. They launched two gliders in 1900 and 1901 but were disappointed with the performance due to lack of lift and control. The brothers went back to the drawing board and spent the winter of 1901-1902 designing a wind tunnel and conducting experiments to figure out the best wing shape. This allowed them to build a glider with plenty of lift. Towards the end of 1902 they launched their third glider with roll, pitch and yaw controls.

The next winter was spent in designing a gasoline engine small and powerful enough to propel an aircraft. Their mechanic Charlie Taylor was a great help in designing the engine. They also designed the first ever airplane propellers and finally built a new, powered aircraft.

However, the road to success was not so easy. They suddenly found themselves competing with Samuel Langley, Secretary of the Smithsonian Institution. He had also built a powered aircraft and had investment funding to help his ventures. Luckily for the Wright brothers, Langley’s two attempts at launching his airplane failed miserably and put him out of competition.

Other problems were not quite so easily resolved. The weather misbehaved and there was nothing much they could do about it. Something in their control however, was the propeller. The propeller shafts broke on the first attempt and the drive sprockets were too loose on the second try. On the third try one of the propeller shafts cracked. Orville finally resolved the problem by using spring steel to make a new set of shafts. The aircraft was ready and they called it the Flyer.

After two unsuccessful attempts, the Wright brothers made aeronautical history on December 17th, 1903. Orville Wright took the Flyer for a 12 second sustained flight covering 120 feet. In the next few hours the brothers made 4 flights the longest of which was 852 feet.

Thus, the Wright brothers invented the airplane and much more!

Read More......

Derby Airport in Australia.








Derby Airport.

Airport History

Derby has contributed to the aviation history of Australia since the first days of Norman Brearly's West Australian Airways.

On 9th August 1922, a site for the Derby airport was selected. This site, now the aircraft aerodrome near town, met the demands of aviation for the next 68 years. For a number of years the salt marsh adjacent to the town was used as a convenient airstrip provided the tide was out!

In 1938 the introduction of a United Kingdom to Darwin flying boat service and a land plane link from Darwin to Sydney began. A through route from Darwin to Perth was established by MacRobertson Miller Aviation Co (MMA), which had taken over from Western Australian Airways in 1934.

In May 1941 an Advanced Operational Base was established by the RAAF and the aerodrome came under military control. It became an important base for Allied operations when Japan entered the war and made a series of attacks to the North West, including an air raid on Derby and the devastating attack on Broome.

Drama has been part of Derby's aviation history with events such as the downing of the Southern Cross at Glenelg River north of Derby on the 30th March 1929, flown by Kingsford Smith. This became known as the Coffee Royal Affair, as it was speculated, and later disproved, that Kingsford Smith had staged the forced landing as a publicity stunt.

The Royal Flying Doctor Service (Victorian Section) was incorporated on 23rd August 1934. It provided an essential service that continues today, with modern aircraft servicing all the Kimberley from the airport and now administered by RFDS (Western Operations).

In 1989, civil operations were shifted to the Curtin Civil Terminal at Curtin RAAF Base, and the local airport reduced to light aircraft status on 1 July 1989.

Since then, all civil operations have returned to Derby Airport and services include Regular Public Transport (RPT, Charter and Royal Flying Doctor Service operations.

Copy a portion in>>> www.sdwk.wa.gov.au/.../ derbyairport.html

Read More......

Pesawat Jatuh di TMII.

Pesawat Jatuh di TMII
TNI AU & FASI Bentuk Tim.



Jakarta - Menyusul jatuhnya pesawat Cesna V 207, TNI Angkatan Udara (AU) dan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) akan membentuk panitia penyelidikan kecelakaan pesawat terbang (PPKPT).

"Bisanya kita bentuk PPKPT terdiri dari FASI dan TNI AU," ujar Kepala Dinas Operasi Lanud Halim Perdanakusumah Kol Penerbangan Handoko di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (26/4/2008).

Menurut Handoko, penyebab pesawat masih abu-abu. Kabar mesin pesawat mati saat berada di atas langit sudah didengarnya.

Meski demikian, Handoko memastikan pi lot pesawat sudah mempunyai izin terbang. Namun apakah pesawat laik terbang, Handoko belum dapat memastikannya.

"Saya belum tahu sejauh itu. Mestinya pesawat yang terbang memliki sertifikat kelaikan terbang," ucap dia.Soal bahan bakar alias avtur pesawat yang dikeluarkan oleh petugas untuk mencegah kebakaran, menurut Handoko hal itu merupaka avigas bukan avtur. "Itu avigas," kata Handoko.
( nik / ana )

Lihat berita selangkapnya di >>> http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/26/time/162914/idnews/929957/idkanal/10

Read More......

The Boeing 787 Dreamliner.





Boeing - persuahaan penghasil pesawat terbang terbesar selain Airbus - baru-baru ini meluncurkan jenis pesawat terbarunya yang diberi nama Boeing 787 “Dreamliner”. Launching Dreamliner dilakukan pada hari minggu 8 July 2007, yang dalam system penanggalan Amerika tanggal tersebut ditulis sebagai 07.08.07, persis mewakili nama seri dari Boeing 787 Dreamliner ini.Semenjak Dreamliner dalam tahapan desain beberapa tahun lalu, kemunculannya telah mengundang kekaguman tersendiri. Banyak pihak terutama para pelaku industry transportasi udara menantikan kehadirannya. Akibatnya, Boeing kebanjiran pesanan akan Dreamliner sebelum pesawat itu diluncurkan, dan saat ini pihak Boeing mengatakan pesanan akan Dreamliner telah mencapai 600 lebih, bahkan satu jam sebelum acara peluncurannya di Seattle, Boeing menerima 35 pesanan!

Dreamliner diklaim sebagai pesawat yang paling ramah lingkungan dengan konsumsi bahan bakar yang sangat efisien, dan merupakan pesawat pertama didunia yang sebagian besar badannya dibuat dari composite material. Banyak pihak menyebut Dreamliner sebagai pesawat yang terbuat dari plastic.
New Manufacturing Model

Apa lagi yang istimewa dari Dreamliner ini? Jawabannya adalah proses desain dan manufacturing-nya. Ya, Boeing telah menerapkan model manufacturing baru dalam memproduksi Dreamliner. Untuk pertamakalinya dalam sejarah Boeing - dan dalam sejarah fabrikasi pesawat - Dreamliner diproduksi dengan model outsourcing dengan partner yang tersebar diseluruh dunia mulai dari Asia sampai Eropa. Pesawat diproduksi secara modular oleh perusahaan yang berbeda untuk selanjutnya dirakit dan diuji di fasilitas pusat Boeing di Everett, Washington. Boeing sendiri hanya berperan sebesar kira-kira 35% dari total pekerjaan dalam produksi Dreamliner ini. Boeing benar-benar menerapkan keunggulan Extended Supply Chain nya untuk mengelola proyek global raksasa ini untuk mengelola produski suatu pesawat. Boeing berhasil menggunakan supply chain excellent-nya sehingga mampu memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh supplier-supplier intinya untuk meningkatkan time-to-market dengan biaya yang sangat-sangat kompetitif. Inilah model baru dari manufacturing, lokasi pabrik tidak berada dalam satu tempat, tapi diseluruh dunia, masing-masing memproduksi modul yang berbeda.

Dreamliner merupakan hasil dari collaborative design dengan melibatkan partner inti dari Eropa, Jepang dan USA yang telah terlibat sejak awal konsepsi produk. Boeing hanya memproduksi bagian body utama (the flight deck and fuselage) yang dikerjakan di fasilitas produski Boeing di Wichita. Bagian lain diproduksi oleh berbagai perusahaan partner utama Boeing diantaranya:
Roll Royce dan General Electric menyedian mesin utama
Fuji Heavy Industries - Jepang, memproduksi the centre wing box
Kawasaki Heavy Industries - Jepang bertanggung jawab untuk produski bagian depan dari badan pesawat, bagian tetap dari sayap, dan landing gear
Mitsubishi Heavy Industries Jepang, memproduksi the wing box.
Spirit Aerosystems of Wichita memproduksi bagian hidung pesawat (composite nose section)
Global Aeronautica, joint venture antara Vought Aircraft Industries dan Alenia Aeronautica, memproduksi bagian tengah dan ekor pesawat
Latecoere - Perancis memproduksi pintu penumpang
Goodrich - menyediakan the nacelles (bagian penutup mesin) and thrust reverser (bagian mesin jet)
Kaiser Electroprecision memproduksi electronic pilot control display
Flight control, navigation system, auto pilot, crew information system/maintenance system di supply oleh Honeywell Arizona
Common Core System - system pengendali dan komunikasi di supply oleh Aerospace dari Inggris
Diehl Luftfahrt Elektronik - German mensuplai Cabin Lighting System, suatu system pencahayaan baru yang tidak akan ditemukan dalam pesawat lain

Bisa kita lihat dari daftar pemasok diatas, Boeing menyerahkan tanggung jawab produksi tidak kurang dari 70% dari keseluruhan komponen pesawat. Tidak hanya itu, komponen-komponen tersebut bukanly komponen minor atau pendukung, tetapi komponen inti dan crucial pembentuk pesawat, ambil satu contoh misalnya “sayap” yang diproduksi oleh perusahaan Jepang. Ini benar-benar terobasan baru dalam manufacturing.

Mengelola sedemikian besar produksi, dengan partner yang tersebar di seantero jagad tentu merupakan tantangan tersendiri dengan resiko yang tidaklah kecil. Namun Boeing berhasil menjadikan tantangan ini menjadi suatu keunggulan, mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya dan meningkatkan time-to-market.

Kunci dari semua itu adalah kolaborasi tingkat tinggi antara supplier dan Boeing. Kolaborasi bahkan dimulai sejak tahap konsepsi awal pesawat yang disebut sebagai “flying technology” ini. Boeing tidak berkerja dalam mode serial dimana komponen bergerak dari satu bagian produksi ke bagian lain, melainkan Boeing bekerja sama dengan seluruh rekanannya secara simultan sebagai satu entitas global. Tiap-tiap supplier tidak mengirimkan komponen-komponen kecil ke fasilitas perakitan Boeing, tetapi Boeing menyerahkan pada supplier untuk merakit bagian-bagian pesawat tersebut kepada para suppliernya. Dengan model ini, para supplier dimungkinkan untuk mengirimkan komponen ke supplier lainnya, untuk diuji dan selanjutnya dirakit menjadi modul pesawat yang lebih besar. Contohnya, barrel section dari fuselage (central body dari pesawat) dibuat di Itali kemudian dikirim ke Vought Aircraft Industries di South Carolina. Di tempat ini komponen tadi akan dirakit dengan bagian sayap yang dikirim dari Jepang, dipasangi kabel-kabel, pipa, dan komponen pendukung lainnya, di uji dan di cat dengan warna sesuai pesanan. Selanjutnya seluruh semi rakitan ini dikirim ke pusat perakitan Boeing di Everett, Washington.

Model baru dari pabrikasi ini memerlukan visibility informasi yang sangat tinggi. Informasi harus mengalir secara simultan, kontinyu dan real-time. Dengan supplier dan mitra kerja yang tersebar diseluruh belahan bumi, kebutuhan akan visibility tentulah sangat mendasar. Perbedaan zona waktu, perbedaan bahasa adalah merupakan tantangan tersendiri yang mampu dikelola dengan baik oleh Boeing.

Kolaborasi, koordinasi antar partner didukung dengan informasi secara real time dan kontinyu menjadikan Boeing sebagai perusahaan manufactur yang menjadikan berbagai kota dibelahan bumi terhubung menjadi satu lintasan perakitan pesawat.

Dikutip dari http://baihaqi.wordpress.com/2007/07/09/boeing-787-dreamliners-supply-chain/

Read More......

The MD 82 Pesawat Tak Bising Dan Efisien.





MD 82 Tak Bising dan Efisien.

Pesawat jenis MD-82 adalah pesawat mesin ganda, tidak bising dan hemat bahan bakar. Pesawat sejenis ini mendapatkan sertifikasi dari Federal Aviation Administration, Agustus 1980, dan mulai dipakai secara komersial Oktober 1980.

Mesin pesawat MD-82 dan beberapa seri MD (80, 81, 83, 87, 88, 90) dibuat oleh Pratt & Whitney. Seri mesin untuk MD-82, mulai beroperasi tahun 1986, adalah JT8D-217s, yang lebih kuat. Sama seperti seri MD lainnya, MD-82 merupakan pesawat paling hemat bahan bakar di antara semua jenis pesawat komersial yang ada di dunia ini. Pesawat dengan panjang 45,08 meter dan kapasitas 171 orang ini banyak dipakai maskapai ternama di dunia, termasuk maskapai Wings dari Indonesia.

MD-82 dikategorikan sebagai pesawat dengan tujuan jarak pendek dan menengah dengan kemampuan terbang dengan jarak antara 2.410 hingga 4.345 km, atau bisa menjelajahi dua kali panjang Pulau Sumatera.

Pesawat ini diproduksi di Divisi Long Beach, AS, oleh Boeing Commercial Airplanes, hingga Desember 1999. MD-82 bisa lepas landas dengan beban 67.812 kg.

Cikal bakal pesawat MD-82 berawal pada uji coba tahun 1975 oleh McDonald Douglas atas pesawat jenis DC-9. Perusahaan ini bangkrut dan digabungkan ke Boeing pada tahun 1997. Pesawat jenis DC-9 ini dikembangkan agar bisa lebih hemat dan bisa terbang lebih tinggi di angkasa dan melahirkan seri MD.

Adapun kecelakaan pesawat jenis MD lebih disebabkan faktor landasan, cuaca, dan kesalahan manusia (human error).

Read More......

Pesawat Serang OV-10 Bronco.





Pesawat Serang OV-10 Bronco.

OV-10 Bronco pesawat baling-baling yang digunakan untuk aktivitas overvasi dan penyerangan darat.pesawat buatan North American Rockwell itu dikembangkan pada tahun 1960-an dan terbukti sangat efektif dalam misi coin atau counter insurgency pada perang vietnam.

Bronco ( bahasa spanyol ),yang berarti liar,mulai digunakan indonesia pada tahun 1976.pesawat ini juga terbukti ampuh dan menyumbang peran penting dalam berbagai operasi TNI,terutama di medan timor timur papua, dan aceh.bronco yang masuk skuadron udara 21 tempur taktis wing 2 dan markas di pangkalan udara abdulracman saleh malang dikandangkan sejak kecelakaan yang menewaskan dua awaknya.

Read More......

Pesawat Angkut C-130 Hercules.





Pesawat Angkut C-130 Hercules.

Ini adalah salah satu pesawat yang paling banyak digunakan di dunia.lebih dari 50 negara menggunakan pesawat buatan lockheed ini.di angkatan udara amerika sendiri, hercules termasuk yang paling lama dioperasikan.fungsi utamanya adalah sebagai pengangkut dan cargo.tapi sekarang hercules sudah dikembangkan menjadi pesawat tanker,patroli dan oservasi maritim,serta penyerangan darat.

Beberapa unit yang dioperasikan TNI AU adalah buatan 1960-an.karena masih diproduksi dan digunakan oleh negara asalnya,TNI AU mungkin hanya menggantinya dengan seri terbaru.

Read More......

Pesawat Intai Gaf Nomad.




Pesawat Intai Gaf Nomad

Nomad adalah pesawat dengan baling-baling ganda yang mampu take-off dan mendarat di landasan pendek atau short take off and landing.pesawat itu dibuat pada tahun 1965 oleh pabrik pesawat milik Australia,Gaf dan digunakan untuk pesawat intai angkatan darat dan dinas bea-cukai Australia.

TNI angkatan laut mulai mengoperasikannya pada tahun 1997.belakngan ini pemerintah Australia menemukan masalah pada desainnya dan memutuskan untuk mengandangkannya.media aussie menjuluki pesawat itu sebagai widow-maker atau ''pembuat janda'' karena mengalami 24 kecelakaan fatal dan 76 kecelakaan berat.

Read More......

Airbus A380 Pesawat Semewah Hotel.



Airbus  menjanjikan pesawat yang sanggup merevolusi penerbangan udara.A380 dengan kapasitas 
yang lebih banyak , kursi yang lebar, lebih nyaman untuk kaki di bandingkan pesawat jumbo-jet sekarang.

Sebuah pesawat jumbo seharga US$ 275 juta manjajikan kemewahan sebuah penerbangan udara,revolusi penerbangan udara bahkan diperlukan pabrik yang lebih besar untuk mambangunnya.kabinnya lebih berupa hotel terbang dibanding disebut pesawat terbang.fasilitas sebuah hotel berbintang 5 yang anda butuhkan ada di pesawat ini mulai dari bar dengan live musik, pusat kebugaran,tempat tidur, TV/video pribadi bahkan kamar mandi berpancuran dengan air panas dan air dingin.

Didesain dengan konsep triple deck,yang terdiri dari deck atas, deck utama dan deck bawah.deck di atas sanggup mencapai 102 penumpang kelas bisnis dan 103 kelas ekonomi.untuk deck utama terdiri dari 22 penumpang dan 328 kelas ekonomi.sedangkan deck bawah untuk cargo yang sanggup manampung 12 pallet.

Pesawat terbesar di dunia ini mulai di rakit di toulese,prancis 7 mei 2004 yang lalu yang diresmikan oleh perdana menteri jean-pierre raffarin.

Untuk pembuatan ini sudah merupakan hal yang luar biasa. pesawat yang memiliki panjang 73 M memusatkan perakitan di toulouse.dengan setiap bagian dibuat di negara yang berbeda-beda.perancis mengerjakan kubah radar, potongan hidung, badan tengah pesawat dan wing box. spanyol menggarap ekor pesawat dan perut tengah pesawat.inggris membangun sayap selebar 79,8 M dan jerman membuat ekor vertikal dan buritan.

Para pengamat penerbangan memperkirakan, pesawat A380 diperkirakan akan merevolusi industri penerbangan.hal ini terbukti pada telah terdaftarnya 11 maskapai yang mencapai 129 pesanan.sejak paris show 2003 seperti Air France, Emirates, Federal Express,ILFC,Korea Air,Qatas,Qatar Airways.Untuk Asia Tenggara Malaysia Airlines dan Singapore Airlines.

Airbus A380 Dengan mesin terbaru Trent 900 Rolls-Royce atau GP7200 Engine Alliance dengan rata-rata bahan bakar mesinnya lebih hemat 20% di bandingkan dengan pesawat jumbo-jet sekarang.A380 Dapat menjangkau jarak sejauh 16.800 KM tanpa henti dan biaya operasionalnya pun lebih murah 17% untuk penumpang dan 30 % untuk pesawat cargo.

Read More......

Terbang Layang Dengan Gantole ( Capung ).





Terbang Layang Dengan Gantole.

Olahraga gantole ini terbilang populer di masyarakat.masuk ke indonesia sekitar tahun 1977.semula namanya hang gliding .oleh ahli bahasa aton muliono di terjemahkan sebagai layang gantung.

Adalah wiweko soepono,tokoh penerbang indonesia sebagai pembawa hand gliding ke tanah air.wiweko menyerahkan peralatan hang gliding kepada Ir.Herudi.oleh herudi diserahkan kepada beberapa mahasiswa Teknik Fisika Falkutas ITB.

Di ITB inilah peralatan Hang giliding di buat duplikatnya.setelah itu diterbangkan secara 
otodidak di bukit lagarda,cimahi kabupaten bandung.pada tanggal 5 juli 1977 mahasiswa ITB Ervan Ibrahim tercatat sebagai orang pertama yang berhasil menerbangkan layang gantung ini,walaupun dengan jarak yang tidak begitu tinggi.

Tanggal 22 juli 1977,ervan dan kawan-kawan membentuk klub layang gantung pertama.namanya Gantole.Nama gantole sendiri di ambil dari bahasa bugis yang artinya Capung.Nama gantole tidak lain atas saran Ahmad Kalla ( Adik Jusuf Kalla Wakil Presiden RI ) yang merupakan salah satu perintis olahraga ini di indonesia.

Era Tahun 1985 - 1995 dapat di sebut sebagai masa maraknya olah raga ini.gantole masuk masuk sebagai cabang yang di pertandingan dalam PON XI.

Bagian Gantole.

1. Harness.
2. Sayap.
3.Control Bar.

Harness sendiri letaknya menempel pada badan penerbang gantole dan sewaktu terbang di bawahnya membentuk kantong semacam kepompong kaki masuk kedalamnya dan kedua tangan memegang Base Bar.

Sayap Gantole terdiri dari Dua batang leading edge,satu batang leading Cross bar dan Satu set Control Bar serta satu batang kill.leading edge merupakan batang penguat sayap yang letaknya paling depan sedangkan Cross Bar terletak melintang antara pertengahan leading edge dengan Kill.

Satu Set Control bar terdiri dari dua buah down Tabe dengan panjang sama dan satu batang base bar membentuk segitiga sama kaki.dua down tabe posisinya bediri,di pegang bila atlit gantole mau meloncat.sedangkan base bar posisinya melintang di bawah guna pengemudi bila gantole sedang terbang.

SPESIFIKASI GANTOLE.

Panjang Leading edge
( Sebelah Sayap )                : 5,5 M.

Berat                                     : 20 - 30 Kg.

Tinggi ( Panjang )
Down Tube                           : 1,7 M.

Pajang Base Bar                   : 1,4 M.

Pajang Kill                             : 3,6 M.

Panjang Gantole
Sudah Dilipat                        : 3,6 M.

Read More......

Bandara Juanda Pintu Gerbang Utama Surabaya Dan Jawa Timur.




Bandara Juanda.

Bandara Juanda Surabaya,berada sekitar 20 kilometer selatan surabaya menuju sidoarjo yang secara administratif berada di wilayah kecamatan kedati,Kab.sidoarjo.Suarabaya yang penduduknya sekitar 2,6 jta orang adalah ibukota propinsi jawa timur dan merupakan kota terbesar kedua setelah jakarta.

Dengan klarifikasi bandara kelas 1,bandara juanda sanggup didarati pesawat boeing 747 dengan landasan mencapai 3000 M,peran bandara juanda akan semakin penting dengan meningkatnya peranan surabaya berkaitan dengan peningkatan kegiatan ekonomi.oleh karena itu pengembangan bandara juanda sangat diperlukan guna untuk dapat memberikan jasa pelayanan sesuai dengan tututan masa kini.

Sejarah singkat Bandara Juanda.

Bandara udara juanda di bangun sejak tahun 1959 dan diresmikan penggunanya oleh Presiden Pertama Republik Indonesia pada tanggal 12 Agustus 1964 dengan sebutan pangkalan udara TNI-AL ( Lanundal Juanda ).pada awalnya dipergunakan untuk keperluan militer,namun sejalan dengan perkembangan jaman dan meningkatnya kebutuhan maka bandara ini berkembang pula untuk penerbangan sipil.

perkembangan penerbangan sipil yang semakin meningkat menyebabkan meningkatnya kesibukan TNI-AL.Tahun 1981 penerbangan sipil di lanudal juanda di alihkan pengelolaanya dari Dephamkam Kepada Dephub,dengan pengolahan bandara juanda diserahkan pada Direktorat Perhubungan Udara sampai tahun 1984.

Sejak tanggal 1 januari 1985 pengolahan bandara diserahkan kepada Perum Angkasa Pura.Tahun 1986 Perum Angkasa Pura berubah menjadi Perum Angkasa Pura I.

Dibawah pengolahan Pt.Angkasa Pura I bandara juanda telah melakukan perubahan -perubahan dan mengalami perkembangan di antaranya, tanggal 26 juli 1985 ditetapkan sebagai bandara Ekspor/Impor.pada tanggal 12 desember 1987 di buka pelayanan penerbangan internasional seperti singapura,Hongkong,Taipe dan Manila dengan Transit bandara soekarno-Hatta.

Setahun berikutnya pada tanggal 1 Oktober 1988 dilayani kedatangan Internasional Khusus custum.Pada tahun 1988 bandara juanda dinyatakan sebagai pintu masuk bebas visa bagi wisata asing.pada tanggal 26 mei 1990 dilakukan peresmian VIP Room oleh bapak Sudharmono,SH. 24 desember 1990 Menteri Perhubungan Ir.Aswar Anas meresmikan terminal Internasional oleh sekaligus pembukaan penerbangan Internasional perdana.pada bulan desember 1991 Singapura Airlines dan China Sounthern Air membuka jalur pernerbangan ke singapura dan Canto( China ).

Terminal Bandara Juanda.

Secara keseluruhan terminal bandara juanda mencapai 28.088 m2 dengan kapasitas total 5,4 juta penumpang/tahun.bandara juanda memiliki 3 terminal yaitu terminal domestik, Internasional dan terminal Cargo.

1.Untuk terminal domestik terminal seluas 20.131 M2. Ini dapat melayani hingga 4 juta penumpang/tahun.
2.Untuk terminal Internasional, yang berkapasitas 1,4 juta penumpang/tahun,mencakup bangunan seluas 7.957 M2.
3.Untuk terminal Cargo terletak di sebelah barat banda dengan luas 9.200 M2.

Selain Terminal-terminal di atas,bandara juanda juga memliki terminal VIP yang terletak di sebelah timur terminal Internasional.Terminal ini Khusus di gunakan Untuk kedatangan maupun keberangkatan Tamu Khusus atau Tamu bandara.

Rute Tujuan Penerbangan.

Dengan waktu operasi dari jam 06.00-24.00 WIB.Bandara Juanda melayani 19 maskapai domestik maupun internasional.

Penerbangan domestik yang melayani Rute Juanda antara lain...

1.Garuda Indonesia.
2.Lion Air.
3.Mandala.
4.Bouraq.
5.Merpati.
6.Batavia Air.
7.Star Air.
8.Pelita Air.
9.CitiLink.
10.Adam Air.
11.AirFast.
12.Bali Air.
13.Trigana Air.
14.Jatayu Air.
15 X-press Celebes.

Untuk maskapai yang melayani rute Internasional diantaranya...

1.Garuda Indonesia.
2.Malaysia Air.
3.Bouraq.
4.Merpati.
5.Lion Air.
6.Royal Brunei.
7.Singapore Air.
8.Eva Air.
9Chatay Pasific.

Fasilitas Bandara Juanda.

Sebagaimana layaknya bandara Internasional.bandara juanda di lengkapi dengan fasilitas layanan yang cukup lengkap bagi para penumpang domestik maupun internasional.antara lain lahan parkir,Transportasi,Jasa Keimigrasian,Bank,Cafetaria,Money Changer,ATM dan Counter Hotel dan wisata.

Read More......

Bentuk Sayap Burung dan Sayap Pesawat.



Menyusul semakin berkambangnya dunia moderan begitu juga transportasi penumpang yang semakin maju.dengan ilmu technologi dan pikiran manusia yang jenius terciptalah transportasi udara yang super canggih.dengan media bantuan burung terciptalah burung besi yang bisa mengangkut beratus-ratus penumpang dengan waktu yang singkat.lihat foto di atas
bentuk dan ukuran antara sayap burung besi ( pesawat ) dan sayap burung.

Read More......

Sejarah Bandara Soekarno - Hatta.

Antara 1928–1974, Bandar Udara Kemayoran yang ditujukan untuk penerbangan domestik dianggan terlalu dekat dengan basis militer Indonesia, Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Penerbangan sipil di area tersebut menjadi sempit, sementara lalu lintas udara meningkat cepat, yang mana mengancam lalu lintas internasional.

Pada awal 1970-an, dengan bantuan USAID, delapan lokasi berpotensi dianalisa untuk bandar udara internasional baru, yaitu Kemayoran, Malaka, Babakan, Jonggol, Halim, Curug, Tangerang Selatan dan Tangerang Utara. Akhirnya, Tangerang Utara dipilih dan ditandai juga Jonggol dapat digunakan sebagai bandara alternatif. Sementara itu, pemerintah memulai upgrade terhadap Bandar Udara Halim Perdanakusumah untuk melayani penerbangan domestik.

Antara 1974-1975, sebuah konsorsium konsultan Kanada mencakup Aviation Planning Services Ltd., ACRESS International Ltd., dan Searle Wilbee Rowland (SWR), memenangkan tender untuk proyek bandara baru. Pembelajaran dimulai pada 20 Februari 1974 dengan total biaya 1 juta Dollar Kanada. Proyek satu tahun tersebut disetujui oleh mitra dari Indonesia yang diwakili oleh PT Konavi. Pada akhir Maret 1975, pembelajaran ini menyetujui rencana pembangunan 3 landasan pacu, jalan aspal, 3 bangunan terminal internasional, 3 terminal domestik dan 1 terminal Haji. Terminal domestik bertingkat tiga dibangun antara 1975-1981 dengan biaya US$465 juta dan sebuah terminal domestik termasuk apron dari 1982-1985 dengan biaya US$126 juta. Sebuah proyek terminal baru, diberi nama Jakarta International Airport Cengkareng (kode: JIA-C), dimulai.

1975 – 1977: Untuk membuka lahan dan mengatur perbatasan provinsi dibutuhkan waktu. Schiphol Amsterdam ditanyai pendapatnya yang mana menurut mereka agak mahal dan overdesign. Biayanya meningkat karena penggunaan sistem desentralisasi. Sistem sentralisasi menjadi yang terbaik.

Tim tersebut masih menggunakan sistem desentralisasi. Sistem awal Bandar Udara Orly West, Lyon Satolas, Hanover-Langenhagen dan Kansas City digunakan karena simpel dan efektif.

12 November 1976: Undangan Tender kepada konsultan Perancis dengan pemenangnya Aeroport de Paris.

18 Mei 1977: Kontrak akgir ditandatangani antara Pemerintah Indonesia dengan Aeroport de Paris dengan biaya 22,323,203 franc dan Rp 177.156.000 yang ekuivalen dengan 2,100,000 Franc. Waktu yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut adalah 18 bulan, dan pemerintah menunjuk PT Konavi sebagai mitra lokal.

Hasilnya adalah:

2 landasan pacu termasuk taxiway
Jalan aspal: 1 di timur, yang lainnya di barat untuk layanan bandara. Jalan barat ditutup untuk publik.
3 terminal yang dapat menangani 3 juta penumpang per tahun
1 terminal untuk penerbangan internasional dan 2 untuk domestik
Kebun di dalam bandara dipilih sebagai gambaran.
20 Mei 1980: Pekerjaan dimulai dengan biaya untuk 4 tahun. Sainraptet Brice, SAE, Colas bersama PT Waskita Karya sebagai pembangun.

1 Desember 1980: Pemerintah Indonesia menandatangani perjanjian senilai Rp 384.8 miliar dengan pembangun. Biaya struktur tersebut mencapai Rp 140.450.513.000 dari APBN, 1,223,457 Franc disumbang oleh Perancis dan US$15,898,251 dari pemerintah.

1 Desember 1984: Bandar udara ini secara fisik selesai.

1 Mei 1985: Terminal kedua dimulai pembangunannya pada 11 Mei 1992. Pada 23 Desember 1986, Kepres No. 64 Tahun 1986 mengenai kontrol udara dan daratan di sekitar Bandar Udara Soekarno-Hatta dikeluarkan.


Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (IATA: CGK, ICAO: WIII) merupakan sebuah bandar udara utama yang melayani kota Jakarta di pulau Jawa, Indonesia. Bandar udara ini diberi nama seperti nama Presiden Indonesia pertama, Soekarno, dan wakil presiden pertama, Muhammad Hatta. Bandar udara ini sering disebut Cengkareng, dan menjadi kode IATA-nya, yaitu CGK.

Letaknya sekitar 20 km barat Jakarta, di Kabupaten Tangerang, Banten. Operasinya dimulai pada 1985, menggantikan Bandar Udara Kemayoran (penerbangan domestik) di Jakarta Pusat, dan Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Bandar Udara Kemayoran telah ditutup, sementara Halim Perdanakusuma masih beroperasi, melayani penerbangan charter dan militer. Terminal 2 dibuka pada tahun 1992.

Soekarno-Hatta memiliki luas 18 km², memiliki dua landasan paralel yang dipisahkan oleh dua taxiway sepanjang 2,400 m. Terdapat dua bangunan terminal utama: Terminal 1 untuk semua penerbangan domestik kecuali penerbangan yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara Airlines, dan Terminal 2 melayani semua penerbangan internasional juga domestik oleh Garuda dan Merpati.

Setiap bangunan terminal dibagi menjadi 3 concourse. Terminal 1A, 1B dan 1C digunakan (kebanyakan) untuk penerbangan domestik oleh maskapai lokal. Terminal 1A melayani penerbangan oleh Lion Air, Wings Air dan Indonesia AirAsia.

Terminal 2D dan 2E digunakan untuk melayani semua penerbangan internasional maskapai luar. Terminal 2D untuk semua maskapai luar yang dilayani oleh PT Jasa Angkasa Semesta, salah satu kru darat bandara. Terminal 2E untuk maskapai internasional yang dilayani oleh Garuda, termasuk semua penerbangan internasional Garuda dan Merpati. Terminal 2F untuk penerbangan domestik Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara Airlines.

Bandar udara ini dirancang oleh arsitek Perancis Paul Andreu, yang juga merancang bandar udara Charles de Gaulle di Paris. Salah satu karakteristik besar bandara ini adalah gaya arsitektur lokalnya, dan kebun tropis di antara lounge tempat tunggu. Bagaimanapun, karena perawatannya yang kurang, lokasinya tidak strategis dan pendapatan kurang, bandar udara ini lebih rendah daripada bandara internasional lainnya di daerah itu.

Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta memiliki 150 loket check-in, 30 pengklaiman bagasi dan 42 gerbang. Setiap sub-terminal memiliki 25 loket check-in, 5 pengklaiman bagasi dan 7 gerbang.

Angkasa Pura II sedang merencanakan pembangunan terminal baru dengan fitur desain yang modern. Terminal 3 dibangun untuk maskapai bertarif rendah. Terdapat sebuah rencana besar untuk membangun 5 terminal penumpang + 1 terminal haji dan 4 landasan pacu.

Pada 2009, bandara ini akan terhubung dengan Stasiun Manggarai (stasiun pusat Jakarta masa depan) oleh kereta api.

Bandar udara ini membebankan pajak sebesar Rp 100.000 ($9 USD/8 Euro) untuk setiap penumpang internasional dan Rp 30.000 untuk setiap penumpang domestik


Elevasi 10 m (32 f)

Koordinat
06°07′32″LS,106°39′21″BT

Landas pacu

Arah Panjang Permukaan
ft m
07R/25L 12,007 3,660 Beton
07L/25R 11,811 3,660 Beton


Terminal 1
Terminal 1A

Indonesia AirAsia (Balikpapan, Batam, Denpasar/Bali, Medan, Padang, Surabaya)
Dirgantara Air Service
Lion Air (Ambon, Balikpapan, Banda Aceh, Banjarmasin, Batam, Bau Bau, Bengkulu, Bima, Denpasar/Bali, Gorontalo, Jambi, Kaimana, Kendari, Kupang, Makassar, Manado, Mataram, Medan, Padang, Palu, Pangkal Pinang, Pekanbaru, Semarang, Solo, Sorong, Sumbawa, Surabaya, Tahuna, Tarakan, Tual, Yogyakarta)
Wings Air (Denpasar/Bali, Fak Fak, Luwuk, Manado, Mataram, Medan, Palembang, Pekanbaru, Sorong, Ternate, Yogyakarta)

Terminal 1B

Batavia Air (Balikpapan, Banjarmasin, Denpasar/Bali, Jambi, Kupang, Manado, Medan, Padang, Palembang, Pangkalpinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Surabaya, Tarakan, Yogyakarta)
Kartika Airlines (Balikpapan, Batam, Ipoh, Johor Bahru, Medan, Surabaya, Tarakan)
Sriwijaya Air (Balikpapan, Bandar Lampung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Denpasar/Bali, Gorontalo, Jambi, Malang, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Pangkal Pinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Solo, Surabaya, Tanjung Pandan, Yogyakarta)

Terminal 1C

Air Efata (Biak, Jayapura, Surabaya, Timika)
Airfast Indonesia (rute domestik)
Mandala Airlines (Ambon, Balikpapan, Banda Aceh [dimulai pada 1 Oktober 2007], Banjarmasin, Batam, Denpasar, Jambi, Makassar, Malang, Manado, Medan, Padang, Pekanbaru, Semarang, Surabaya, Tarakan, Yogyakarta)

Eks-pengguna

Adam Air (Ijin perhubungan udara dicabut)
Citilink (Ditutup sementara (sampai pertengahan 2008))

Terminal 2

Maskapai berikut menggunakan Terminal 2 tetapi tidak jelas concourse yang mana yang digunakan.

Cebu Pacific (Manila)

Terminal 2D

AirAsia (Kuala Lumpur)
Air China (Beijing, Xiamen)
Air India (Mumbai, Singapore)
Asiana Airlines (Seoul-Incheon)
Cathay Pacific (Hong Kong)
China Airlines (Hong Kong, Taipei-Taiwan Taoyuan)
China Southern Airlines (Guangzhou)
Emirates (Colombo, Dubai, Kuala Lumpur, Singapore)
Etihad Airways (Abu Dhabi)
EVA Air (Taipei-Taiwan Taoyuan)
Japan Airlines (Tokyo-Narita)
KLM (Amsterdam, Kuala Lumpur)
Korean Air (Seoul-Incheon)
Kuwait Airways (Kuala Lumpur, Kuwait)
Lufthansa (Frankfurt, Singapore)
Malaysia Airlines (Kuala Lumpur)
Mandala Airlines (Penang)
Philippine Airlines (Manila, Singapore)
Qantas (Perth, Sydney)
Saudi Arabian Airlines (Jeddah, Kuala Lumpur, Riyadh)
Singapore Airlines (Singapore)
Thai Airways International (Bangkok-Suvarnabhumi, Singapore)
Valuair (Singapore)
Viva Macau (Macau)
Yemenia (Dubai, Kuala Lumpur, Sana'a)

Eks pengguna

Adam Air (Ijin perhubungan udara dicabut)

Terminal 2E

Batavia Air (Guangzhou, Kuching)
Garuda Indonesia (Bangkok-Suvarnabhumi, Beijing, Chennai, Guangzhou, Ho Chi Minh City, Hong Kong, Jeddah, Kuala Lumpur, Nagoya, Osaka-Kansai, Perth, Riyadh, Shanghai-Pudong, Singapore, Tokyo-Narita)
AirAsia
Indonesia AirAsia (Kuala Lumpur, Johor Bahru)
KLM Royal Dutch Airlines (Amsterdam, Kuala Lumpur)
Lion Air (Ho Chi Minh City (mulai 18 April), Kuala Lumpur, Penang, Singapore)
Merpati Nusantara Airlines (international routes)
Qatar Airways (Doha, Kuala Lumpur, Singapore)
Royal Brunei (Bandar Seri Begawan)

Terminal 2F

Merpati Nusantara Airlines (rute domestik)
Garuda Indonesia (Ampenan, Balikpapan, Banda Aceh, Banjarmasin, Batam, Biak, Denpasar/Bali, Jayapura, Makassar, Manado, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Pekanbaru, Semarang, Solo, Surabaya, Timika, Yogyakarta).

Read More......

Pesawat Mata-Mata.



Proyek pengembangan si “intel terbang” ini dimulai dengan pesawat tipe U-2, sebuah pesawat dengan kemampuan mata-mata yang dapat terbang dengan ketinggian ekstrim sehingga sulit dilacak oleh lawan.

Kabarnya pesawat U-2 ini pernah memata-matai wilayah Indonesia pada saat pemeberontakan PERMESTA dan pada peristiwa TRIKORA berlangsung.

Masih terkait U-2, pada 1960-an, pesawat mata-mata dengan pilot Francis Gary Powers, seorang agen CIA jatuh di wilayah Uni Soviet. Pesawat ini berhasil dirontokkan dari udara oleh sebuah rudal tipe SA-2.

Pesawat SR-71 lahir ketika perang dingin tengah berkecamuk, dibuat dengan tujuan untuk memata-matai Uni Soviet kala itu. Dengan kemampuannya, pesawat ini mampu menjalankan tugas-tugas intelijen dari udara.

Pesawat dilengkapi dengan kamera ultra sensitife untuk memotret dari ketinggian yang sangat ekstrim. Tak hanya itu, burung besi ini memiliki kemampuan terbang dengan kecepatan tiga kali kecepatan suara (tiga Mach).

Karena kemampuannya tersebut SR-71 dapat mengitari bumi hanya dengan sekali isi ulang bahan bakar di udara. Pesawat ini pada akhirnya memiliki pesaing, yakni pesawat SU-25 buatan Uni Soviet.

Pada 1997, SR-71 memasuki usia pensiun dan dibebas tugaskan CIA dengan alasan SR-71 boros bahan bakar. Namun pada 1999 pesawat ini diaktifkan kembali, karena tidak adanya pesawat mata-mata milik CIA yang sepadan dengan SR-71.

Perlu diketahui, skadron pesawat mata-mata AS berada dibawah kekuasaan CIA, dan pilotnya pun adalah orang-orang pilihan di CIA. Hal ini sama sekali berbeda dengan anggapan awam, bahwa pilot tersebut dianggap berasal dari Angkatan Udara AS/USAF.

Pengganti SR-71 mempunyai beberapa persyaratan utama, yakni memiliki unsur siluman/stealth, dapat terbang tinggi, kecepatan diatas 3 Mach, irit bahan bakar, dan efisien pengoperasiannya.

Tantangan dari pemerintah AS untuk membuat pesawat mata-mata dengan spesifikasi khusus itu dijawab divisi Skunk Works Lockheed Martin. Divisi ini menjawab dengan mengeluarkan prototype pesawat mata-mata terbaru yaitu, Comorant dan SR-72.

Sebelumnya, perusahaan Locheed Martin ini telah menghasilkan pesawat U-2 Dragon Lady dan SR-71 Blackbird, Stealth F-117 dan B-2. Pesawat-pesawat tersebut telah sangat dikenal luas dan teruji kehebatannya.

Di sisi lain, Uni Soviet tak mau kalah dengan negara rivalnya, negara Stalin ini mengembangkan pula beberapa varian pesawat dengan fungsi utama sebagai pesawat mata-mata, diantaranya pesawat Myasishchev M-55.

Comorant
Pada pengembangan pesawat mata-mata, divisi Skunk Works mendesain sebuah pesawat dengan fungsi beragam serta memiliki kemampuan terbang dari mana saja. Hal ini untuk memenuhi salah satu permintaan pemesannya, yakni Angkatan Laut AS/US NAVY.

Selanjutnya, Skunk Works menjawab tantangan US NAVY dengan sebuah disain pesawat seberat empat ton bersayap seperti sayap burung camar dengan nama Comorant. Sayap model ini dipasang di sepanjang tubuh pesawat agar dapat memasuki tabung misil Trident.

Pesawat ini terbuat dari titanium untuk mengurangi korosi, dan setiap ruang kosong diisi busa plastik guna mengurangi dampak guncangan. Bukan itu saja, setiap inchi badan pesawat dibuat dengan gas bertekanan tinggi.

Comorant tidak keluar dari tabung misil layaknya misil biasa, tetapi ia meluncur seperti ketika menyiapkan senjata keluar. Selanjutnya Comorant dikirim keluar mengambang ke permukaan air dan bersamaan dengan itu pula, kapal selam secepatnya menjauh.

Setelah pesawat keluar ke permukaan air, mesin pendorong menyala dan kemudian Cormorant lepas landas.

Sesudah menyelesaikan misinya, Cormorant terbang ke titik pertemuan yang telah ditentukan kapal selam di laut. Kemudian kapal selam meluncurkan robot penyelam untuk menangkap Cormorant yang sedang mengapung.

Informasi yang beredar meyebutkan, tes beberapa model Comorant tersebut telah selesai dilakukan pada September 2006 lalu. Selanjutnya Darpa akan memutuskan model mana yang akan didanai menjadi protoype yang dapat terbang.

SR-72
Sepuluh tahun setelah pesawat mata-mata Angkatan Udara AS SR-71 pensiun, divisi legendaris Lockheed Martin, Skunk Works mengerjakan sebuah proyek pesawat mata-mata dengan kemampuan istimewa.

Pesawat rahasia itu mampu menembus kecepatan 4000 mph atau setara enam Mach dan terbang pada ketinggian 100.000 kaki, serta berkemampuan jelajah antar benua. Pesawat yang diperkirakan berkode SR-72 rencananya akan terbang perdana pada 2020.

Pekembangan teknologi pesawat mata-mata pada akhir-akhir ini lebih memilih menggunakan teknologi robot atau pesawat tanpa awak. Karena itu, teknologi serupa kemungkinan besar akan diterapkan pada SR-72.

Jika SR-71 hanya memiliki kamera super sensitif yang hanya dapat mengambil gambar di bawahnya, maka pada SR-72 ditambahkan pula sensor untuk mengenali senjata dari kejauhan.
Proyek pesawat ini sifatnya sangat rahasia, jadi jangan berharap Angkatan Udara AS dan Skunk Works akan memberi keterangan tentang keberadaan pesawat konsep tersebut

Pesawat Rusia.
Sifat tertutup membuat keberadaan pesawat mata-mata milik Uni Soviet tidak diketahui keberadaannya, bahkan setelah negara komunis itu pecah. Di sisi lain, Rusia sebagai representasinya tidak juga membuka akses.
Dari beberapa varian yang dikembangkan, jenis Myasischev M-55 adalah salah satunya, tapi itu pun hanya ada sedikit informasi tentang pesawat ini.

Ide menggunakan pesawat M-55 adalah untuk menjangkau area yang tidak terjangkau sinyal satelit, atau sebagai alat darurat pada saat bencana alam terjadi dan saluran telekomunikasi melalu telepon selular tidak berjalan dengan normal.

Dengan kemampuan tambahan sebagai penyambung telekomunikasi, Myasischev M-55 mempunyai kelebihan tersendiri dibandingkan pesawat mata-mata milik AS. Keuntungannya sangat jelas, dengan kemampuan terbang tinggi, M-55 dapat mencakup area sinyal dan saluran radio yang sangat luas.

Tak hanya itu, M-55 juga dapat menyadap saluran komunikasi dan mengatur jalur keluar masuknya komunikasi, sehingga pihak Rusia dapat mengetahui lalu lintas percakapan di setiap wilayah.

Tulisan lengkap bisa dilihat di Tabloid Intelijen Edisi 22 Tahun 4, 2007

Read More......

Model Pesawat Terbang Dari Peradaban Pra-kolombia Kuno.




Apakah keganjilan-keganjilan prasejarah mengenai konsep pesawat terbang modern hanya bisa kita temukan di Mesir dan India saja? jawabannya tentu saja tidak. Di beberapa wilayah di sekitar Amerika Tengah hingga kebeberapa bagian negara di Amerika Latin, banyak ditemukan artifak-artifak purbakala yang berbentuk sangat mirip dengan desain pesawat terbang modern pada umumnya. Artifak-artifak yang keseluruhannya terbuat dari bahan dasar emas tersebut diperkirakan telah berusia 1000 tahun lebih. Apabila desain dari pesawat terbang di kuil Abydos masih berupa relief, lain halnya dengan benda peninggalan masa silam yang satu ini. Yup, artifak-artifak ini benar-benar berupa arca-arca kecil, mungkin boleh dibilang sebagai replika dari dari sebuah wahana bersayap yang masih sangat sulit untuk di identifikasi jenisnya.

Para ahli purbakala menyebut obyek-obyek kecil ini sebagai zoomorpic, yang artinya hewan berbentuk suatu obyek tertentu. Namun apabila artifak-artifak kecil tersebut merupakan penggambaran bentuk tubuh suatu jenis hewan tertentu, maka hewan apakah yang dapat mewakilinya? Jika dibandingakan dengan artifak-artifak kuno berbentuk makhluk hidup dari seluruh kebudayaan diseluruh dunia, maka yang satu ini sangatlah berbeda. Karakteristiknya sangat berbeda dengan artifak peninggalan kebudayaan lainnya yang pada umumnya berbentuk realistik dan sangat mudah dikenal hanya dengan melihat bentuk morfologinya saja.

Ada beberapa jenis hewan terbang seperti burung (unggas) dan serangga serta beberapa mamalia seperti tupai terbang dan oppossum. kemudian ada beberapa jenis kadal, ada juga jenis-jenis ikan tertentu yang juga dapat meluncurkan tubuhnya secara singkat ke udara. Tapi, dari semuanya itu, hewan jenis apakah yang lebih tepat untuk mewakili obyek-obyek misterius tersebut? Merlihat dari bentuk-nya saja, dapat diperkirakan jika benda tersebut bukan merupakan penggambaran menganai makhluk hidup jenis apapun. Seharusnya para sarjana tidaklah perlu terlalu memaksakan dirinya untuk terlalu ngotot menyebutkan bahwa obyek-obyek tersebut merupakan penggambaran dari suatu spesies hewan. Kini, saatnya kita harus sedikit membuka pikiran mengenai ketidakmungkinan prasejarah menjadi sesuatu yang mungkin saja terjadi.

Anak kecil sekali pun tidak akan mengimajinasikan obyek itu sebagai burung apabila diperlihatkan kepadanya. Mungkin, mereka akan lebih suka menyebutnya sebagai "mainan" berbentuk pesawat terbang. Walaupun demikian, sesungguhnya masih terlalu sulit bagi kita untuk mengidentifikasi/menentukan obyek apakah yang diukir oleh para pemahat-pemahat masa silam ini. Apakah benar artifak-artifak ini bisa dijadikan bukti kuat bahwa peradaban prasejarah telah memasuki zaman aeronautika? mungkin masih sangat sulit untuk mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan.

Diatas ini adalah gambar dari artifak membingungkan tersebut. Jika kita perhatikan, struktur dari benda ini benar-benar telihat seperti kerangka sebuah pesawat terbang modern. Dimana disana kita bisa melihat secara jelas bentuk dari kedua sayapnya, dan bagian depan yang mirip dengan moncong pesawat terbang pada umumnya. Hal itu berlaku juga pada bagian belakangnya, dimana tidak ada perbedaan bentuk yang terlalu mencolok dengan bentuk posisi kemudi di bagian belakang pesawat modern. Mari kita perhatikan lagi sebuah cekungan kecil diantara kepala dan badan obyek tersebut. Saya tidak terlalu ngotot untuk menyebutnya sebagai pusat kendali/kokpit, dimana biasanya sang pilot dengan gagah-nya duduk di tempat itu. Lalu kita perhatikan bagian bawahnya, ada dua citra terlihat disana, yang satu berbentuk setengah lingakaran (tidak sempurna) dan yang satunya lagi agak sedikit memanjang hingga kebelakang tubuh obyek. Disini, saya juga tidak terlalu ngotot untuk menyebut citra setengah lingkaran tersebut sebagai roda, dimana pada setengah bagiannya lagi masuk kedalam badan pesawat. Sepertinya, memang sebuah rodalah yang kira-kira dapat mewakilinya. Lalu untuk citra yang satunya lagi, masih sangat sulit untuk ditentukan.

Bila kita mengidentifikasi artifak tersebut seperti diatas, maka kita akan semakin yakin bahwa benda kuno itu tidak sekalipun dapat mewakili bentuk dari suatu jenis spesies hewan, sehingga sebutan zoomorpic sepertinya tidaklah terlalu tepat untuk menyebutnya. Menurut pandangan saya pribadi, tidak ada salahnya kita berspekulasi bahwa masyarakat prasejarah yang sebenarnya tidaklah terlalu seprimitif yang kita bayangkan sebelumnya. Saya percaya, sebenarnya kita hanyalah mengulang sejarah dan menemukan kembali apa yang telah ditemukan oleh nenek moyang (tahu kan maksud saya?). Tentunya pernyataanku ini bukan tanpa dasar sama sekali. Bagi teman-teman yang sering mengikuti artikel di blog-ku ini, dapat kalian lihat sendiri banyaknya temuan prasejarah aneh dan misterius, namun juga begitu canggih. Para sarjana pun dibuat pusing oleh hal ini, dan mereka sering menyebut benda-benda canggih masa silam itu sebagai "keganjilan prasejarah".

Menurut pandangan masyarakat umum, awal 1900-an merupakan titik awal dari perkembangan menuju era transportasi udara setelah Wright bersaudara berhasil mengembangkan konsep pesawat terbang berkekuatan mesin pertama pertama di dunia yang mereka namakan Kitty Hawk. Tapi itu tidak menurutku, sebab saya yakin bahwa ribuan tahun yang lalu nenek moyang kita sebenarnya telah memasuki zaman nuklir dan telah mampu mengembangkan teknologi dirgantara/aeronautika yang canggih. Bahkan saya pun yakin jika mereka telah berhasil menemukan dan menggunakan peralatan listrik. Mungkin sebagian dari teman-teman menganggap pandanganku ini terlalu imajinatif dan gila. Tapi, jika kita rajin membaca beberapa referensi/sumber yang ada dan sekaligus mau membuka pikiran yang menyumbat ini, niscaya mungkin akan tercerahkan.

Sudah terlalu banyak informasi yang kita dapatkan mengenai mesin-mesin terbang masa silam seperti ini. Mulai dari catatan kitab suci di daratan India hingga ke wilayah Benua Amerika. Info-info itupun dipertegas dengan temuan-temuan arkeologi yang sebagaimana kita ketahui sangat banyak dan tersebar rata dari berbagai penjuru dunia.
Banyak lukisan-lukisan purbakala yang terukir pada Gua, dan umumnya menggambarkan sesuatu yang diluar dugaan kita. Para pelukis-pelukis gua itu menggambarkan sesuatu yang membingungkan, benda-benda terbang yang aneh, lengkap dengan para pengemudinya yang menggunakan helm logam. Apakah mereka menggambarkan secara kebetulan saja dan sesuai dengan imajinasi mereka? saya katakan itu tidaklah mungkin. Sebab lukisan-lukisan ini hampir bisa ditemukan diseluruh wilayah di bumi ini. Mungkin untuk yang satu ini, akan saya uraikan lebih jauh di artikel selanjutnya mengenai "teori astronot kuno" yang dikemukakan oleh beberapa penulis nonfiksi terkenal seperti Zacharia Sitchin, Burak Eldem, Robert K.G.Temple maupun Erich Von Daniken.

Read More......

Kisah Segitiga Bermuda.



Bagi Anda yang gemar kisah misteri, pasti mengenal Segitiga Bermuda. Wilayah laut di selatan Amerika Serikat dengan titik sudut Miami (di Florida), Puerto Rico (Jamaica), dan Bermuda ini, telah berabad-abad menyimpan kisah yang tak terpecahkan. Misteri demi misteri bahkan telah dicatat oleh pengelana samudera macam Christopher Columbus.

Sekitar 1492, ketika dirinya akan mengakhiri perjalanan jauhnya menuju dunia barunya, Amerika, Columbus sempat menyaksikan fenomena aneh di wilayah ini. Di tengah suasana laut yang terasa aneh, jarum kompas di kapalnya beberapa kali berubah-ubah. Padahal cuaca saat itu begitu baik.

Lebih dari itu, tak jauh dari kapal, pada suatu malam tiba-tiba para awaknya dikejutkan dengan munculnya bola-bola api yang terjun begitu saja ke dalam laut. Mereka juga menyaksikan lintasan cahaya dari arah ufuk yang kemudian menghilang begitu saja.

Begitulah Segitiga Bermuda. Di wilayah ini, indera keenam memang seperti dihantui ’suasana’ yang tak biasa. Namun begitu rombongan Columbus masih terbilang beruntung, karena hanya disuguhi ‘pertunjukkan’. Lain dengan pelintas-pelintas yang lain.

Menurut catatan kebaharian, peristiwa terbesar yang pernah terjadi di wilayah ini adalah lenyapnya sebuah kapal berbendera Inggris, Atalanta, pada 1880. Tanpa jejak secuilpun, kapal yang ditumpangi tiga ratus kadet dan perwira AL Inggris itu raib di sana. Selain Atalanta, Segitiga Bermuda juga telah menelan ratusan kapal lainnya.

Di lain kisah, Segitiga Bermuda juga telah membungkam puluhan pesawat yang melintasinya. Peristiwa terbesar yang kemudian terkuak sekitar 1990 lalu adalah raibnya iring-iringan lima Grumman TBF Avenger AL AS yang tengah berpatroli melintas wilayah laut ini pada siang hari 5 Desember 1945. Setelah sekitar dua jam penerbangan komandan penerbangan melapor, bahwa dirinya dan anak buahnya seperti mengalami disorientasi. Beberapa menit kemudian kelima TBF Avenger ini pun raib tanpa sempat memberi sinyal SOS.

Anehnya, misteri Avenger tak berujung di situ saja. Ketika sebuah pesawat SAR jenis Martin PBM-3 Mariner dikirim mencarinya, pesawat amfibi gembrot dengan tigabelas awak ini pun ikut-ikutan lenyap. Hilang bak ditelan udara. Keesokan harinya ketika wilayah-wilayah laut yang diduga menjadi tempat kecelakaan keenam pesawat disapu enam pesawat penyelamat pantai dengan 27 awak, tak satu pun serpihan pesawat ditemukan. Ajaib.

Tahun demi tahun berlalu. Sekitar 1990, tanpa dinyana seorang peneliti berhasil menemukan onggokan kerangka pesawat di lepas pantai Fort Launderdale, Florida. Betapa terkejutnya orang-orang yang menyaksikan. Karena, ketika dicocok kan, onggokan metal itu ternyata bagian dari kelima TBF Avenger.

Hilangnya C-119

Kisah ajaib lainnya adalah hilangnya pesawat transpor C-119 Flying Boxcar pada 7 Juni 1965. Pesawat tambun mesin ganda milik AU AS bermuatan kargo ini, hari itu pukul 7.47 lepas landas dari Lanud Homestead. Pesawat dengan 10 awak ini terbang menuju Lapangan Terbang Grand Turk, Bahama, dan diharapkan mendarat pukul 11.23.

Pesawat ini sebenarnya hampir menuntaskan perjalanannya. Hal ini diketahui dari kontak radio yang masih terdengar hingga pukul 11. Sesungguhnya memang tak ada yang mencurigakan. Kerusakan teknis juga tak pernah dilaporkan. Tetapi Boxcar tak pernah sampai tujuan.

“Dalam kontak radio terakhir tak ada indikasi apa-apa bahwa pesawat tengah mengalami masalah. Namun setelah itu kami kehilangan jejaknya,” begitu ungkap juru bicara Penyelamat Pantai Miami. “Besar kemungkinan pesawat mengalami masalah kendali arah (steering trouble) hingga nyasar ke lain arah,” tambahnya.

Seketika itu pula tim SAR terbang menyapu wilayah seluas 100.000 mil persegi yang diduga menjadi tempat kandasnya C-119. Namun hasilnya benar-benar nihil. Sama seperti hilangnya pesawat-pesawat lainnya di wilayah ini, tak satu pun serpihan pesawat atau tubuh manusia ditemukan.

“Benar-benar aneh. Sebuah pesawat terbang ke arah selatan Bahama dan hilang begitu saja tanpa jejak,” demikian komentar seorang veteran penerbang Perang Dunia II.

Seseorang dari Tim SAR mengatakan, kemungkinan pesawat jatuh di antara Pulau Crooked dan Grand Turk. Bisa karena masalah struktur, ledakan, atau kerusakan mesin. Kalau memang pesawat meledak, kontak radio memang pasti tak akan pernah terjadi, tetapi seharusnya kami bisa menemukan serpihan pecahannya. Begitu pula jika pesawat mengalami kerusakan, mestinya sang pilot bisa melakukan ditching (pendaratan darurat di atas air). Pasalnya, cuaca saat itu dalam keadaan baik. Dalam arti langit cerah, ombak hanya sekitar satu meter, dan angin hanya 15 knot.

Analisis selanjutnya memang mengembang kemana-mana. Namun tetap tidak menghasilkan apa-apa. Kasus C-119 Flying Boxcar pun terpendam begitu saja, sampai akhirnya pada tahun 1973 terbit artikel dari International UFO Bureau yang mengingatkan kembali sejumlah orang pada kasus ajaib tersebut.

Dalam artikel ini dimuat kesaksian astronot Gemini IV, James McDivitt dan Edward H. White II, yang justru membuat runyam masalah. Rupanya pada saat-saat di sekitar raibnya C-119, dia kebetulan tengah mengamati wilayah di sekitar Karibia. Gemini kebetulan memang sedang mengawang-awang di sana. Menurut catatan NASA, pada 3 sampai 7 Juni 1965 keduanya tengah melakukan eksperimen jalan-jalan ke luar kapsul Gemini dengan perlengkapan yang dirahasiakan.

Menurut Divitt, dia melihat sebuah pesawat tak dikenal (UFO) dengan semacam lengan mekanik kedapatan sedang meluncur di atas Karibia. Beberapa menit kemudian Ed White pun menyaksikan obyek lainnya yang serupa. Sejak itulah lalu merebak isu, C-119 diculik UFO. Para ilmuwan pun segera tertarik menguji kesaksian ini. Tak mau percaya begitu saja, mereka mengkonfirmasi obyek yang dilihat kedua astronot dengan satelit-satelit yang ada disekitar Gemini IV. Boleh jadi ‘kan yang mereka salah lihat ? Maklum saat itu (hingga kini pun), banyak pihak masih menilai sektis terhadap kehadiran UFO.

Ketika itu kepada kedua astronot disodori gambar Pegasus 2, satelit raksasa yang memang memiliki antene mirip lengan sepanjang 32 meter dan sejumlah sampah satelit yang ada di sekitar itu. Namun baik dari bentuk dan jarak, mereka menyanggah jika telah salah lihat.

“Sekali lagi saya tegaskan, dengan menyebut UFO ‘kan tak berarti saya menunjuk pesawat ruang angkasa dari planet lain. Pengertian UFO sangat universal. Bahwa jika saya melihat pesawat yang menurut penilaian saya tak saya kenal, tidakkah layak jika saya menyebutnya sebagai UFO?” sergah Divitt.

Begitulah kasus C-119 Flying Boxcar yang tak pernah terpecahkan hingga kini. Diantara kapal atau pesawat yang raib di wilayah Segitiga Bermuda kisahnya memang senantiasa sama. Terjadi ketika cuaca sedang baik, tak ada masalah teknis, kontak radio berjalan biasa, tetapi si pelintas tiba-tiba menghilang begitu saja. Tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Banyak teori kemudian dihubung-hubungkan dengan segala kejadian di sana. Ada yang menyebut teori pelengkungan waktu, medan gravitasi terbalik, abrasi atmosfer, dan ada juga teori anomali magnetik-gravitasi. Selain itu ada juga yang mengaitkannya dengan fenomena gampa laut, serangan gelombang tidal, hingga lubang hitam (black-hole) yang hanya terjadi di angkasa luar sana. Aneh-aneh memang analisanya, namun tetap saja tak ada satu pun yang bisa menjelaskannya.

Read More......